Peran Penting Giroud dalam Taktik Perancis


Perancis jadi juara Piala Dunia 2018. Olivier Giroud jadi anggota dari keberhasilan Les Bleus. Namun meski Giroud selalu jadi pemain utama, banyak orang mencurigakan kehebatannya. Pasalnya Giroud tidak mencetak gol di Piala Dunia 2018 ini.

Giroud bermain di seluruh pertandingan Perancis di Piala Dunia 2018 ini. Hanya di pertandingan pertama ia tidak bermain sejak kick-off. Di pertandingan-pertandingan lainnya, Giroud selalu diandalkan Didier Deschamps. Penyerang Chelsea ini jadi pemain dengan menit bermain terbanyak kelima Perancis—hanya kalah dari Raphael Varane, N`Golo Kante, Lucas Hernandez, dan Antoine Griezmann.

Dalam tujuh pertandingan, Giroud tidak mencetak satu gol pun. Dikutip agen bola bonus 100%, Dalam 546 menit bermain, ia hanya membiarkan 13 tembakan; berarti jika dirata-rata, Giroud paling banyak membiarkan satu tembakan setiap babak. Dari seluruh tembakan tersebut, tidak satu pun pas sasaran. Tak heran ia nirgol di Piala Dunia 2018.

Untuk seorang penyerang di sepakbola, gol adalah tolok ukur terpenting. Karena itulah Giroud diolok-olok. Kemampuan dan kehebatannya dipertanyakan.

Namun yang mesti diketahui adalah sepakbola modern telah mengubah banyak hal, salah satunya kegunaan seorang penyerang. Giroud adalah satu dari sekian banyak penyerang yang bisa beradaptasi dengan perubahan taktik sepakbola. Hal itu yang coba dimaksimalkan Deschamps sepanjang turnamen.

Tidak seluruh penyerang pantas dinilai kontribusinya dari jumlah gol yang ia cetak. Karena sekarang, tidak seluruh penyerang difungsikan sebagai pencetak gol utama. Peran itulah yang dimainkan Giroud dengan timnas Perancis selagi ini.

Perancis asuhan Deschamps mengalami perubahan skema bermain sehabis gagal juara di Piala Eropa 2016. Perancis terasa mengedepankan kekuatan pertahanan dibandingkan agresivitas menyerang. Hal itu dianggap oleh Blaise Matuidi, gelandang Perancis yang jadi anggota skuat Perancis di Piala Eropa 2016 dan Piala Dunia 2018.

“Tangisan dari Piala Eropa 2016 telah kering, namun tetap tersedia di beberapa pikiran orang lain,” kata Matuidi terhadap NDTV. “Kekalahan itu dapat berguna untuk Minggu nanti [melawan Kroasia], meski saya tidak mendambakan mempunyai masa lalu. Tapi kita jadi mengetahui dan mesti layaknya apa bermain di final. Kami dapat bermain tidak serupa dan berharap kita bermain bagus dan memenanginya.”

Griezmann, layaknya Matuidi, secara jujur mengatakan bahwa ia telah mengubah gaya bermainnya untuk bisa mencapai kemenangan. “Saya pada mulanya jadi top skorer [di Piala Eropa 2016] namun kita kalah di final. Jadi saya berbicara terhadap diri saya sendiri: `Saya dapat jarang mencetak gol untuk memicu Perancis menang`.”

Banyak gol bukan obyek utama Perancis. Mereka tak kasus “bermain buruk” demi mencapai kemenangan. Tak heran sepanjang fase group penampilan Perancis kurang meyakinkan. Perancis yang mencapai dua kemenangan dan satu imbang hanya mencetak tiga gol saja.

Dalam sistem 4-2-3-1 Perancis (dimainkan sejak pertandingan ke-2 melawan Peru), sistem pertahanan adalah yang utama. Dalam perubahan ini, tersedia dua pemain yang terasa konsisten menghuni susunan pemain utama Perancis: Blaise Matuidi dan Giroud.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *